Apa itu supplier? Jika Anda berniat menjadi produsen, penting sekali untuk mengetahui seluk-beluknya. Terutama saat ingin memulai bekerjasama. Sebab, pihak supplier-lah yang nanti akan bertugas untuk memasok atau mencarikan bahan baku pada Anda.

Secara umum, supplier itu bisa dalam bentuk perusahaan ataupun perorangan.

Apa itu Supplier dan Bagaimana Cara Kerja Supplier?

Pihak supplier memiliki tanggung jawab penuh terhadap kualitas bahan baku maupun layanan. Sebab, jika kualitasnya menurun, mau tidak mau produk yang Anda hasilkan juga ikut turun. Misalnya Anda bertindak sebagai produsen keripik pisang. Bahan utamanya menggunakan pisang kepok. Tapi, suatu hari terjadi kelangkaan bahan baku.

Maka, pihak supplier mestinya memberikan alternatif bahan baku yang kualitasnya setara dengan pisang kepok. Misal pakai pisang nangka. Bukan jenis pisang yang jika digoreng atau dikeringkan jadi gampang remuk. Beberapa pisang yang tidak cocok untuk dijadikan keripik antara lain jenis uter, gambleh, serta parlak.

Meskipun tugas-tugas supplier dikerjakan seorang diri, tetap harus punya komitmen dalam hal penyediaan bahan baku berkualitas. Pihak supplier juga perlu menguasai seluk-beluk bahan baku sebelum dipasarkan ke produsen.

Jadi, sebelum bekerja sama, Anda sudah tahu kualitas dan variasi bahan mentah yang ditawarkan. Tidak perlu lagi meraba-raba.

Bagaimana Cara Menjaga Hubungan Baik dengan Supplier?

1. Jika Dinilai Berkualitas, Tak Ada Salahnya untuk Berbagi

Berbagi? Maksudnya, memberi tahu produsen serupa (misalkan teman Anda) yang juga membutuhkan bahan baku berkualitas. Terutama untuk yang baru merintis. Di lapangan boleh saingan. Tapi untuk kesejahteraan sesama, kiranya perlu menjalin adab pertemanan yang baik. Bukankah Anda memiliki resep rahasia sendiri untuk sukses di bidang yang sama?

Pihak supplier tentu sangat senang ketika bisa melayani banyak klien. Sekali waktu, coba ajak ngopi atau bincang-bincang sekadarnya secara santai. Tak melulu harus bicara soal bisnis.

Bagi seorang produsen, supplier itu tak ubahnya seperti saudara kandung bagi bisnis Anda. Tanpanya, bisnis Anda bisa jadi macet di tengah jalan.

2. Jangan Tunda-Tunda Lagi untuk Memberikan Review atau Testimoni

Biasanya, testimoni atau review dari pelanggan dibutuhkan untuk memperkuat brand milik supplier. Kalau Anda diminta untuk memberikan review atau testimoni, kasih saja. Jangan ditunda-tunda.

Semakin banyak komentar positif yang diperoleh supplier, maka semakin mudah menggaet klien baru. Bukankah hal itu juga bagus untuk Anda?

Siapa yang tak bangga jika berhasil menggaet supplier berkualitas? Setelah memberi testimoni atau review positif, sebisa mungkin untuk tidak meminta diskon. Apalagi sampai memaksa hanya karena sudah lama bekerja sama. Kalau bisnis yang dijalankan supplier lancar, toh nantinya Anda juga kebagian diskon.

3. Jangan Pernah Lupa Bayar Tagihan

Nah, ini yang seringkali bikin supplier uring-uringan. Supplier mana pun pasti tidak suka dengan klien yang sering menunda pembayaran.

Apalagi kalau sampai dalam hitungan minggu/bulan. Sedangkan mereka perlu memutar modal untuk mengadakan bahan baku berkualitas. Bisa-bisa, kerja sama dengan Anda dibatalkan gara-gara hal ini.

Lebih buruk lagi, supplier bisa saja mencoret nama Anda sebagai klien atau pelanggan. Kan sayang kalau pelayanan yang mereka berikan sudah keren, kemudian dibalas dengan telat bayar. Apabila Anda mengalami suatu kendala, ada baiknya untuk dibicarakan baik-baik pada supplier.

Hubungan baik ini harus dijaga demi kelancaran bisnis. Sudah tahu kan apa itu supplier? Mudah-mudahan tidak salah paham lagi. Sebab, di luar sana, masih saja ada yang menyamakan supplier dengan distributor. Padahal keduanya memiliki tugas dan peran yang berbeda.

Jika supplier fokus mengadakan bahan mentah, maka distributor bertugas untuk mendistribusikan barang yang sudah jadi.

Mohon maaf fitur komentar kami tutup sementara.